| Country | |
| Publisher | |
| ISBN | 9786236857137 |
| Format | PaperBack |
| Language | Bahasa |
| Year of Publication | 2021 |
| Bib. Info | 266p,23cm, |
| Categories | History |
| Product Weight | 400 gms. |
| Shipping Charges(USD) |
Sebagian masyarakat memberikan citra buruk terhadap ronggeng karena perilaku mereka dianggap paradoks, atau dalam kata lain bertentangan dengan norma kesusilaan. Bagi keluarga baik-baik, ronggeng adalah aib seiring dengan munculnya ungkapan: palias boga anak jadi ronggeng, ngimpi oge diangir mandi (memiliki anak ronggeng adalah sebuah mimpi buruk). Sejalan dengan penilaian negatif tersebut, kata ronggeng ditanggapi sebagai akronim dari dirongrong ditonggeng-tonggeng, atau nyerong bari nyenggeng, atau juga rong ketu ggeng yang arti harfiahnya adalah 'dikerumuni'dan dilecehkan. Di dalam kehidupan sehari-hari, seseorang perempuan terhormat yang diketahui berperilaku tidak pantas atau setikdak-tidaknye melukai perasaan ornag lain, adakalanya dicap sebagai ronggeng dan dengan terpaksa menerima umpatan: ...si ronggeng, si dayang... Berbeda dengan pandangan di atas, pada beberapa tempat di Pasundan dan sekitarnya diperoleh keterangan mengenai adanya pemeran ronggeng yang selain tampil pada kesenian hiburan juga hadir pada upacara-upacara rituals, misalnya Upacara Babarit, Mapag Hujan, Ngalokat, dan Seren Taun. Pada ritus-ritus tersebut bahkan ronggeng memegang peranan penting yaitu sebagai pemimpin upacara, atau setidak-tidaknya melakukan tindakan tindakan yang ditanggapi memiliki simbol-simbol ritus. Dengan adanya peran-peran tersebut maka ronggeng memiliki kedudukan terhormat sekaligus dianggap membawa berkah.